Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

.. :: mama pasha's life under d rainbow :: ..

Category:Other
Eceng Gondok, Gulma Sahabat Manusia?
SEIRING dengan dinamika kehidupan manusia yang demikian kompleks, apalagi aktivitas kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan tempat dia berinteraksi, menuntut perhatian kita untuk peduli terhadap lingkungan sekitar. Sudah menjadi konsekuensi umum bila aktivitas, baik produksi, distribusi, dan aktivitas hajat hidup manusia yang dilakukan tersebut akan membawa dampak baik positif maupun negatif.

DI era globalisasi dan industrialisasi seperti sekarang ini banyak dikembangkan teknologi yang sudah tidak menghiraukan lagi keberadaan dan kepedulian terhadap lingkungan, yang difokuskan hanya kuantitas produksi tanpa menghiraukan kualitas produksi dan kualitas lingkungan hidup.

Dalam proses suatu produksi diperlukan bahan baku dan bahan penunjang lainnya, yang setelah melalui suatu sistem produksi, maka dihasilkan bahan jadi berupa produk. Di samping itu sebagai hasil sampingnya, maka akan diproduksi juga berupa limbah yang merupakan sisa produksi yang tidak terpakai. Limbah yang dihasilkan dari proses ini jika tidak ditangani secara terpadu (berupa treatment) untuk mengolahnya jika dibuang ke tempat pembuangan akan mengganggu lingkungan hidup sekitar.

Dari berbagai air limbah yang ada di sekitar kita, ambil contoh air limbah dari peternakan yaitu air limbah sisa pemotongan hewan ternak. Air limbah yang banyak dihasilkan dari buangan industri, di antaranya adalah dari rumah potong hewan (RPH). Karakteristik air limbah ini mengundang zat organik, unsur hara dan mineral yang tinggi. Air limbah yang dihasilkan dari 1 ton limbah rumah potong hewan berjumlah 5,33 I. Jumlah ini adalah volume limbah yang sebagian besar terdiri dari cairan tubuh hewan dan tanpa pencucian. Bila air limbah tersebut dibuang ke perairan umum, itu akan menimbulkan dampak negatif yang besar terhadap penurunan kualitas perairan.

Pengolahan limbah cair organik telah banyak dilakukan, misalnya secara "Activated Sludge" atau "Trickling Filter". Meskipun memerlukan biaya yang tinggi dan mahal, teknik perawatan dan pengerjaannya relatif rendah dan sederhana. Alternatif lain dalam pengolahan air limbah yang memenuhi kriteria di atas adalah dengan menggunakan tumbuhan air, yaitu eceng gondok.

Manfaat gulma

Eceng gondok adalah salah satu jenis tumbuhan air yang pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Karl Von Mortius pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brazilia. Karena kerapatan pertumbuhan eceng gondok yang tinggi, tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.

Pertumbuhan massal eceng gondok akan terjadi bila perairan mengalami penyuburan oleh pencemaran. Keadaan ini akan terjadi bila kemampuan asimilasi zat yang masuk ke perairan mengalami penurunan.

Kondisi merugikan yang timbul sebagai dampak pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali di antaranya adalah:

- Meningkatnya evapontranspirasi.

- Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens).

- Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.

- Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia.

- Menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.

Dampak negatif tersebut perlu diimbangi dengan usaha penanggulangannya. Salah satu upaya untuk penanggulangan yang umum dilakukan oleh masyarakat di antaranya:

- Menggunakan herbisida

- Mengangkat eceng gondok tersebut dari lingkungan perairan

- Menggunakan predator (hewan sebagai pemakan eceng gondok)

- Memanfaatkan eceng gondok tersebut, misalnya sebagai bahan pembuatan kertas, kompos, biogas, kerajinan tangan, sebagai media pertumbuhan bagi jamur merang, dsb.

- Secara terpadu dengan mengombinasikan cara-cara yang telah disebutkan di atas.

Pemanfaatan eceng gondok untuk produk tertentu merupakan cara yang lebih bijak jika dibandingkan dengan cara-cara lain sebab risiko yang ditimbulkan lebih kecil.

Pemanfaatan eceng gondok untuk memperbaiki kualitas air yang tercemar telah biasa dilakukan, khususnya terhadap limbah domestik dan industri sebab eceng gondok memiliki kemampuan menyerap zat pencemar yang tinggi daripada jenis tumbuhan lainnya.

Menyerap bahan organik

Kecepatan penyerapan zat pencemar dari dalam air limbah oleh eceng gondok dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya komposisi dan kadar zat yang terkandung dalam air limbah, kerapatan eceng gondok, dan waktu tinggal eceng gondok dalam air limbah.

Dari hasil percobaan laboratorium diperoleh simpulan, kecepatan penyerapan Nitrogen (N2) yang maksimal dipengaruhi oleh kerapatan tanaman, sedangkan kecepatan penyerapan Phosphat (P) tidak saja dipengaruhi oleh kandungan Phosphat di dalam air dan kerapatan eceng gondok, tetapi dipengaruhi pula oleh kadar Posphat dalam jaringan. Faktor penunjuk lainya yang memengaruhi penyerapan senyawa Nitrogen dan Phosphat adalah waktu detensi zat tersebut di dalam limbah yang ditumbuhi oleh eceng gondok.

Percobaan lain tentang kemampuan eceng condok menyerap unsur hara Nitrogen (N) dan Phosphat dilakukan dengan menggunakan bejana yang berisi 6 liter air yang mengandung senyawa Nitrogen dan Phosphat masing-masing 50 mg/I, 100 mg/I, dan 250 mg/I. Hasil percobaan menunjukkan senyawa Ammonium yang kadarnya 50 mg/I, dan 100 mg/I, diserap seluruhnya dari dalam air setelah 15 hari dan 21 hari, sedangkan senyawa Nitrat yag kadarnya 50 mg/I, diserap seluruhnya setelah 23 hari.

Ada pun penurunan terbesar kadar Ammonium (NH4+) dan Nitrat (NO3) pada percobaan dengan kadar tertinggi diperoleh setelah 35 hari. Penyerapan kadar Phosphat dalam bentuk OrthoFosfat (PO43-) adalah sekira 80,150, dan 250 mg dari masing-masing perlakuan yang mengandung 50 mg/I, 100 mg/I, dan 250 mg/I.

Interaksi antara kandungan zat di dalam air dan kemampuan menyerap zat tersebut dari dalam air oleh eceng gondok dapat dilihat dari hasil percobaan dengan mengunakan kultur larutan Hoagland. Pada percobaan lain diperoleh bahwa bila kadar Phosfor dalam medium tinggi, penyerapan zat tersebut meningkat, khususnya jika di dalam media tersebut terdapat kadar Nitrogen yang tinggi.

Besarnya kandungan suatu zat di dalam air limbah akan memengaruhi peningkatan Biomassa tanaman. Beberapa penelitian menyatakan bahwa kandungan unsur hara yang berlebihan di dalam air limbah dapat menimbulkan keracunan organ eceng gondok. Hasil percobaan menyatakan eceng gondok menunjukkan gejala keracunan bila kadar Nitrogen di dalam media mencapai 6,525 mg/I.

Dari hasil percobaan lainnya diperoleh bahwa akibat defisiensi Nitrogen pada suatu jenis air limbah yang ditanami eceng gondok menunjukkan adanya pengaruh yang besar terhadap penyerapan Phosfor dari dalam limbah. Oleh karena itu, waktu detensi dan kerapian eceng gondok akan menimbulkan pengaruh yang lebih besar terhadap tingkat penyerapan Phosfor sehingga besarnya Biomassa eceng gondok juga akan dipengaruhi.
___________________________________________________________________
Water hyacinth (Eichhornia crassipes) is one of the worst weeds in the world--aquatic or terrestrial. Until only a few years ago, this floating plant was a major problem in Florida (as it still is in many places throughout the world) covering as many as 125,000 acres of water: boat traffic on several rivers was halted; hundreds of lakes and ponds were covered from shore to shore with up to 200 tons of hyacinths per acre!

This South American native was introduced into Florida in the 1880s. Its growth rate is among the highest of any plant known: hyacinth populations can double in as little as 12 days. Besides blocking boat traffic and preventing swimming and fishing, water hyacinth infestations also prevent sunlight and oxygen from getting into the water. Decaying plant matter also reduces oxygen in the water. Thus, water hyacinth infestations reduce fisheries, shade out submersed plants, crowd out emersed plants, and reduce biological diversity.

Now, however, water hyacinth in Florida is under "maintenance control", thanks to years of concerted effort by local, state and federal water managers. Maintenance control means that plant managers have the plants at a low level, and keep them at a low level using herbicides, machines and biocontrol insects. If only a year passed without constant vigilance by the couple of hundred aquatics management agencies in the state, water hyacinths likely would return to infestation levels that would require millions of dollars worth of effort to return to maintenance levels.


How To Identify Water Hyacinth


Water hyacinth is a free-floating plant, which grows up to three feet in height. It has thick, waxy, rounded, glossy leaves, which rise well above the water surface on stalks. The leaves are broadly ovate to circular, 4 to 8 inches in diameter, with gently incurved sides, often undulate. Leaf veins are dense, numerous, fine and longitudinal. Water hyacinth leaf stalks are bulbous and spongy. Water hyacinth grows an erect thick stalk (to 20 inches long) at the top of which is a single spike of several (8 to 15) showy flowers. The flowers have 6 petals, purplish blue or lavender to pinkish, the upper petals with yellow, blue-bordered central splotches. Water hyacinth reproduces vegetatively by short runner stems (stolons) that radiate from the base of the plant to form daughter plants, and also reproduces by seed. Its roots are purplish black and feathery.


Water hyacinth may be confused with frog's-bit (Limnobium spongia). Compare the two species.


For more information and pictures about water hyacinth, as contained in the Langeland/Burks book, Identification & Biology of Non-Native Plants in Florida's Natural Areas, download this Acrobat .PDF file.



irisshadow wrote on Sep 12, '08
Iy bnr bgt limbah RPH perlu penanganan serius..Tp masyarakat sekitar RPH nampakx tdk bgt mempersoalkan hal ini.Seperti d surabaya..Hal ini karena masyarakat sekitar bnyk yg jd karyawan RPh it sndr,,jd mereka lbh memilih bgt daripd lokasi RPH dipindah ke lokasi lain dng sistem pembuangan yg lbh baik..Tp misalx air limbah organik ini masuk sungai bs di "bersihin" g sih sm PDAM?
zulaikhabudiastuti wrote on Dec 23, '08
eh, ak pernah neliti kalo eceng gondok bisa mereduksi Amonia (kajian ditujukan untuk pengolahan alami pada limbah pabrik pupuk)...tapi, bagaimana dengan timah, apa bisa doreduksi dengan eceng gondok??
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
0 out of 5 stars